Friday, March 14, 2008

Unfinished Feeling


Saya ingat betul siang itu. Jumat. Saya menunggu kamu di kantin sekolah sambil minum es melon dan mencocol sambel untuk bakwan buatan istri Pak Uki yang dahsyat. Kamu sedang kebaktian sekaligus rapat persiapan hari natal sekolah.
Sekitar setengah jam saya menunggu, saya pun melihat kamu tersenyum sambil berjalan ke arah saya, memegang kepala saya dengan sayang dan bertanya apakah saya terlalu lama menunggu kamu. Saya mendongak melihat tubuh kamu yang tinggi besar. Saya memandang lama mata kamu—hal yang tidak pernah bosan saya lakukan ketika berada di dekat kamu—kemudian membalas senyum kamu.
Bahagia. Begitulah kita.

Saya mungkin terlalu melankolis karena sangat suka mengingat masa lalu. Tapi beberapa hari terakhir, sejak saya melakukan percakapan dunia maya dnegan teman-teman semasa sma, mereka dengan gamblang dan ’semena-mena’ mengingatkan saya ke kamu. Secara tidak sopan, rentetan memori tentang kamu membombardir saya. Mereka semua mengingat saya sebagai pacar kamu. Dan saya tidak tahu apakah saya harus sedih atau bahagia dengan ini.

Kamu adalah laki-laki pertama dalam hidup saya yang membuat saya menangis untuk pertama kalinya dalam urusan cinta. Kamu yang pertama kali membuat jantung saya berdegup dengan keras saat pertama kali kamu meraih tangan kanan saya. Kamulah yang pertama kali membuat saya ingin memakai bedak, menyisir rambut, merapikan poni dan berekplorasi gaya rambut ke sekolah. Kamu juga yang pertama membuat saya jadi semangat mencatat, rajin belajar di malam hari dan mengisi LKS dan merasakan betapa tidak indahnya hari libur. Kamulah laki-laki pertama yang menghadiahi gambar-gambar lucu untuk saya. Kamu juga yang pertama yang menghapus air mata saya, memeluk saya, mencium kening dan pipi saya selain ayah saya. Kamulah yang pertama yang selalu menemani kesedihan saya dan ada untuk menghibur saya. Kamu yang pertama yang membuat tahu rasanya marah, kecewa dan benci terhadap pasangan.

Ya, kamulah yang pertama yang membuat saya jatuh cinta. Dan hingga saat ini, saya masih ingat rasanya saat kamu dan saya ’masih ada’.

Kalau saya boleh memilih, saya ingin memiliki relasi yang baik dengan orang-orang yang pernah dekat bahkan sangat dekat dengan saya. Termasuk kamu. Dan saya menyesali ada beberapa hal—yang tentu saja bukan datang dari saya—yang membuat saya dan kamu tidak lagi bisa—setidaknya—berteman. Tapi saya tidak sedih. Saya percaya kamu akan tetap mengingat saya dengan cara kamu tentunya. Saya juga tidak kalah bahagia ketika mendengar kamu sudah menjadi seorang muslim. Alhamdulilah. Ada sesak tapi tidak lama. Hari saya mendengar kabar itu, saya ingat saya langsung sms kamu, tapi saya tidak bisa ingat balasan smsmu. Saya justru sedih dan merasa sangat bersalah, karena di hari paling bahagia seumur hidupmu, saya tidak bisa melihat mata kamu yang indah dan menyaksikan binarnya, saya tidak bisa mendengar kamu bersyahadat saat meminang calon istrimu.. Saya hanya bisa mendengar suaramu dengan latar belakang keadaan yang sangat sibuk. Saya juga bicara dengan calon istri kamu, yang juga saya kenal. Mungkin kamu berpikir saya sengaja tidak datang, karena saya tidak kuasa melihat kamu berdiri di samping perempuan dan dia bukan saya. Saya tidak peduli dengan persepsi kamu. Tapi saya peduli dengan kebahagian kamu.
Percayalah, saya sangat bahagia untuk kamu.

Dan kepedulian saya tidak hanya sebatas telepon. Segera setelah saya tiba di Jakarta, saya pergi ke mall dan mencari lingerie untuk hadiah pernikahan kamu. Saya ingat betul, saya menelepon kamu untuk bertanya warna kesukaan kamu dan istrimu. Saya titipkan hadiah itu di rumah kamu karena saat itu saya tidak punya waktu banyak dan saya merasa harus segera memberikannya untuk kalian, istri kamu terutama.

Tapi di balik segalanya. Ada satu hal yang membuat saya sedih..
Saya tidak punya dokumentasi apa-apa tentang kamu. Saya terlalu marah dengan keadaan dan menghancurkan semua ’saksi’ atas relasi kita. Saya sedih dan sangat menyesal karena seharusnya saya tidak ’membuang’ segala hal yang bisa mengingatkan saya dengan kamu. Kini, saya tidak memiliki apa-apa kecuali memori atas kamu.

Oh ya, saya juga punya punya pesan ini dari teman dekat kamu.
“icha cewe pertama yg bisa jadi soulmate gue.”

Hihihihihi. Saya geer.

Ah kamu.. saya tidak tahu kapan saya akan mengganti status yahoo messenger saya yang berisi judul dari postingan ini.

Eh udah malem. Saya ngantuk banget. Kamu pasti sedang memeluk buah hati kamu sekarang. Selamat tidur ya.


After you’re gone, all that left behind are memories. You’ve created in other people’s lives. (My Blueberry Nights -2006)

Listening When I’m Thinking of You by The Sundays.

Read more...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP