Monday, December 10, 2007

JIFFEST AND MY WEEKEND


Kemaren jadi weekend yang seru buat gue. Gue ketemu Andari, temen di Kunci, dan Udin, temennya Andari yang gue kenal baru kurang dari dua tahun yang lalu kalo gak salah. Keduanya adalah sutradara film dokumenter. Andari dan Udin ke Jakarta dalam rangka nonton premiere film dokumenternya Andari "Crescent Moon Over the Sea" (CMOS) yang menang Script Development Workshop di Jiffest tahun lalu. Banyak banget yang pengen banget gua ceritain di postingan kali ini. Karena emang dua hari kemarin, Sabtu dan Minggu, gue merasa... fresh dan semangat menulis.

Kehadiran dua orang berbakat ini selalu bikin gua iri. Semangat mereka untuk terus membuat karya itu yang bikin gua iri. Apalagi kalo pas Andari cerita dengan sangat sistematis tentang proses pembuatan film dokumenter. Udin juga, dengan komentar-komentar sinisnya akan sebuah film.

Jiffest

Film Jiffest pertama yang gue tonton adalah film karya Yuslam Fikri Ansari, "Laut Yang Tenggelam". Film ini dapet Awards of Excellence, New Asian Current Awards, Yamagata International Documentary Film Award, karenanya Udin dan Andari sangat tertarik untuk nonton. Kalo gue sih, percayakan aja urusan film, apalagi dokumenter sama dua temen gue itu, biasanya yang menurut mereka bagus, biasanya gue juga ngaminin, hehehehe.. Banyak film bagus yang gue tonton hasil dari rekomendasi mereka dan resultnya: ya bagus dong. Filmnya si Yurik itu, ternyata belom ditonton sama mereka berdua dan gue tetep percaya ama feeling mereka. Kalo gue, terus terang, cukup tertarik dengan judulnya meskipun sinopsis di katalog 'enggak aja'. Trus?

Teruuus, 94 menit yang begitu membingungkan. Gue adalah orang yang gak tau banyak soal seluk beluk film dokumenter, dan menurut gue ini film yang susah banget ditangkep fokusnya, di awal sutradara cerita tentang fakta Laguna Segara Anakan yang mengalami kedangkalan akibat sedimentasi terus menerus, terus merembet ke pengaruh hal itu dengan pencaharian penduduknya (nelayan) yang otomatis berkurang karena area laut untuk nangkep ikan jadi berkurang karena lautnya banyak yang berubah jadi daratan. Ok, itu masih nyambung. Meskipun sepanjang cerita itu, gambarnya bener2 banyak yang gelap, gue kayak ngeliat tontonan Buser pas bagian tersangkanya ngomong dan mukenye sengaja digelapin.

Kemudian diteruskan sama warga Kampung Laut yang pengen pindah ke tempat yang lebih tinggi dan berharap bisa mendapatkan hak tanah dari pemerintah. Trus tiba-tiba nyambung ke persoalan pendidikan anak yang dilengkapi sama testimonial guru-guru honorer dengan gaji yang sangat minim, dan tiba-tiba lagi nyambung ke persoalan sedimentasi yang dibahas di depan. Bridging dari satu isu ke isu yang lain bener2 gak diperatiin ama sutradaranya. Nggak cuma itu, banyak narasumber untuk membicarakan hal yang sama dan berulang-ulang, sehingga, menurut gue boros durasi dan useless aja gitu. Ini bener2 kayak profil desa Kampung Laut yang dibikin untuk kepentingan advokasi, bener kata Andari. Sepanjang film, Udin kerjanya ketawa mulu, ketawa sinis.

Di bajaj menuju TIM, gue nanya ama Udin dan Andari soal lighting tambahan di film dokumenter (asli gue gemes banget sama lighting film itu). Menurut mereka, bisa aja, tapi tentunya akan mengganggu narasumber. Iya juga ya, satu hal yang menunjukkan keawaman gue atas film dokumenter, hihihi.. Hmmm, oke deh, tapi keadaan cuaca yang gak bersahabat harusnya udah jadi pertimbangan buat para filmaker dong. Jadi, persoalan teknis pengambilan gambar emang bener2 mesti dipahami bener, toh yang penonton dokumenter, kayak gue, harapkan itu juga bukan gambar2 yang cantik seperti di film2 fiksi kok, tapi bukan juga film yang gelap dan tangan kameramen yang sering tremor parah kayak di film "Laut Yang Tenggelam" itu.
Terus, apa ya yang membuat ni film bisa menang di Yamagata? Udin katanya pengen meresensinya lebih lengkap.

Film kedua yang gue tonton adalah film Kamboja, Paper Can Not Wrap Up Embers. Sutradaranya Rithy Panhtentang. Gue tertarik karena bosen nonton film Hollywood dan film Indonesia. Selain itu film ini juga mengingatkan gue sama salah satu peserta workshop waktu di AYA Exchange, bernama Alma yang juga punya cerita yang mirip dengan film yang bakal gue tonton, tapi cerita Alma tentang perkosaan di Filipina. Tapi gue dan ternyata Udin juga, gak tahan karena bosen dengan ceritanya. Beberapa hal yang bikin gue tertahan kurang lebih 30 menit adalah cerita tantang seorang kakak cewek yang nyesel udah 'menjerumuskan' adiknya jadi PSK dan akhirnya-gue tau dari Andari-adiknya meninggal karena Aids, selain itu pengambilan gambarnya juga enak. Nggak bikin pusing mata kayak Laut yang Tenggelam eta.

Minggunya, gue mengundang Andari dan Udin untuk makan siang di rumah, sekalian pengen pamer Randu ama mereka. Jam 11 lewat, mereka sampe di rumah gue. Setelah liat Randu, mereka langsung disuruh makan ama nyokap gue. Abis makan sambil nonton Billy Elliot, maen n foto2 bareng Randu trus baru deh cabut ke Rawamangun, nemenin Udin ke Outdoor Adventure buat nyari sepatu treking. Dan, yang dia cari gak dapet. Karena gue mao maen ke kost Camcul, my hardcore partner in crime, Udin dan Andari pun memutuskan nyari DVD ke Ratu Plaza sebelum nonton Buenos Aires jam 16.30 di EX. Dan kita njian ketemu di DjakThet jam 7 nanti. Di kost Camcul, gue nemenin dia makan pizza dan chicken wings sambil nonton Komeng dkk di Gong Show. Jam 6 baru kita berangkat ke DjakThet.

Sialnya, gue baru sadar kalo invitation card filmnya Andari ketinggalan di rumah. Damn. Pelupa bangsat gua akut banget deh.. Jadilah taksi yang kita tumpangin mampir dulu ke rumah gue. Hhhh..

Seperti kemarin dan tahun-tahun yang lalu, Jiffest selalu kayak gini look-nya, abg fashionista ama pacar or temen2nya, bule2, artis kadang, orang2 film yang mukanya familiar banget di tipi atau orang2 -seniman kali yee- yang sering gue liat di acara diskusi buku atau pementasan kesenian. Dan di antara kerumunan itu, gue liat Udin lagi ngejogrok deket Studio 3. Gue nyamperin dia sambil ngenalin Camcul. Gue juga nemuin Andari di desk panitia dan segera ngenalin Andari ke Camcul.

Crescent Moon Over the Sea


Kita pun masuk ke studio 3 di mana film Andari diputer. Sebelumnya, film "Boys Meet Girls" jadi film pembuka. "Boys Meet Girls" karya Erik Bachtiar juga menang Jiffest Script Development Competion untuk kategori fiksi. Drama komedi tentang proses brainstorming penulis dan rekannya tentang kemungkinan cowok biasa dapetin cewek cantik. Biasa ye? Emang, tapi eksekusinya lucu kata gue meskipun kriuk level 3 pada awalnya. Yang maen ada Joko Anwar dan Wulan Guritno. Untung cuma 10 menit filmnya, kalo lebih pasti jadi kriuk level 17. Hehe. Apalagi di menit ke 5 gue dah bisa nebak endingnya. Hihihi.

Film Andari, tanpa gue sangka, dimulai ama musik yang sama kayak Joki Kecil -film Andari sebelumnya-. Khas daerah Sumbawa. Mungkin untuk film-film tentang Sumbawa-dan sekitarnya- yang akan datang, Andari akan tetep pake musik itu, jadi ada karakternya. Film ini cerita tentang sebuah keluarga nelayan Bajo di pulau Bungin, pulau kecil yang terisolasi, menghadapi arus perubahan yang begitu cepat. Mungkin gue gak terlalu baik kalo menuliskan kembali cerita di film Andari, tapi setidaknya banyak hal yang pengen gue bilang berkaitan dengan film CMOS. Pertama, gue suka cara Andari bercerita, terstruktur dengan baik, bridging yang oke lewat caption-caption yang sederhana namun sangat membantu. Tokoh favorit gua di film ini adalah Pak Mukaddia (sorry kalo gue salah sebut namanya, abis lupa :p), seorang bapak yang menurut gue, sangat bertanggungjawab atas anaknya, terutama Arief, si bungsu yang duduk di tingkat akhir di sebuah sekolah menengah atas di Mataram. Apa aja yang berkaitan dengan kebutuhan Arief dia akan berjuang mati-matian untuk itu. Dan benar, film ini bikin gue teringat bokap yang begitu manjain gue atas banyak hal, meskipun gue sering menyadari, sikap memanjakan tidak selalu berdampak baik bagi anak, apalagi anak bengal seperti gua. After all, semua yang Andari bikin itu oke, kecuali soal teknis kamera yang lagi2 sering tremor. Di antara kekurangannya, film CMOS tetep membuat gue semakin merasa kalo Andari makin mateng dalam berkarya. Selamat ya An!

Oia, FYI, Film CMOS masih diputer di Studio 3, Djakarta Theater, 12 Desember 2007, 21:30. And if you'd like to know behind the scene CMOS you can visit www.cmosdoc.multiply.com

Meskipun banyak cerita gak pentingnya.. whew, gue menulis panjang! Hehehe. I think i love my second weekend in this december, bisa ngobatin kekecewaan gue atas ketidaksangguphadiran gue di pernikahan sahabat gue Ika di Jogja.

Rumah, 4:40 PM

0 comments:

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP