Tuesday, August 14, 2007

RUMAH 2


rumahku itu, menurutku, cukup besar. mungkin besar karena penghuninya hanya, aku, ibuku dan mba nur. sejak kecil aku tinggal di tempat yang terkenal dengan nama kampung pisangan baru. letaknya di belakang stasiun jatinegara, dekat dengan pasar jangkrik, one of the most popular tradisional markets on jatinegara. selain itu, rumahku berada di antara kelurahan utan kayu dan kayumanis.


rumahku sendiri berdiri sejak tahun 1980-an. yang kuingat aku lahir ketika rumahku sudah di pisangan baru itu. kata ibuku, mereka (orang tuaku) membelinya dari seorang perempuan betawi yang kemudian kami (keluargaku) memanggilnya enek, dari kata nenek sepertinya. enek, menurutku, adalah perempuan yang kaya sekali, dia punya tanah dan kontrakan di mana2, sayangnya anak dan cucunya gak pandai mengolah kekayaannya. tadinya rumahku hanya sepetak. bener2 sepetak. udah gitu, yang tinggal di rumah waktu itu ada 6 orang, aku, mama, papa, kak lia, kak inda dan mbak ani. kami cuma punya ruang tamu, ruang makan yang berfungsi ganda sebagai ruang keluarga dan 4 kamar yang sempitnya minta ampun! kamar mama papa, kamar kak linda (keduanya di bawah), kamar kak lia dan mbak ani (di atas). papaku menyewa garasi, yang juga milik enek di samping rumah.

perlahan-lahan, ibuku bernegosiasi dengan enek untuk melepaskan tanahnya sedikit demi sedikit untuk perluasan rumah kami. seingatku negonya susah sekali, jadi kalau mintanya bulan ini bisa jadi approved-nya taun depan. apalagi garasi.. ugh tempat itu yang paling susah dinegosiasikan, alasannya suatu saat akan jadi tempat usaha anak atau cucunya. bener aja, sekarang tempat yang dulunya adalah garasi untuk mobil papa, kini jadi warung makan khas betawi bernama amanda, cicitnya si enek.
sekarang ini, rumahku sudah lebih panjang ke belakang. ibuku membongkar kamar depan, memundurkan ruang tamu dan menjadikan ruang tamu sebagai garasi. ia juga membangun tiga kamar di belakang, dua kamar tidur dan satu mushola dan tiga kamar lagi di atas. ibuku juga membangun satu impian terbesar sepanjang hidupnya, dapur cantik dengan kitchen set dan wastafel yang bagus. selamat ya ma.. sekarang dah punya dapur impian.

tapi, seiring berubahnya desain konstruksi rumahku, satu persatu orang kemudian keluar dari rumah. bermula dari kak linda, yang kemudian disusul kak lia.. yang terakhir papa. kalo papa, perginya gak pernah balik. outing ke surga, katanya. ya pa?

hari-hari yang sepi dan kadang menyebalkan tidak hanya menyelimuti aku, tapi juga ibuku. pekerjaanku seringkali tidak bisa berkompromi untuk menyenangkan hatinya, akibatnya aku seringkali mendapatinya sesenggukan -yang kuduga karena kesepian-, ketika aku membuka pintu kamar, atau di atas sejadah dengan mukena yang bagian depannya basah karena air mata.

dan semakin ke sini, aku semakin tidak kerasan berada di dalamnya. apalagi ketika ibuku seringkali pergi ke jogja untuk jenguk kak linda. aku pun makin nggak punya alasan, kenapa aku harus pura-pura merasa nyaman terhadap sesuatu yang tidak lagi sanggup kusebut rumah?


0 comments:

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP