Friday, April 14, 2006

gimana kabar cinta bertepuk dinding?


village: mmm
village: mungkin suatu kali hubungan kalian berubah
village: jadi santai aja
dunianisa: aku memutuskan untuk melepaskan semua perasaan yang mengganggu itu lagedunianisa: sejak kemarin malam
village: ya udah
village: itu bagus
village: omong-omong, gimana itu caranya
dunianisa: gak tau deh.
dunianisa: kemaren sebelum tidur, aku niat bgt
village: melalui doa ya?
dunianisa: ya aku sholat
dunianisa: isya sekalian subuh
dunianisa: gak tau deh, tersugesti aja


Hampir satu minggu ini, aku selalu merasa terganggu dengan beberapa masalah yang tidak kunjung selesai. Mereka begitu mengganggu hingga seringkali aku nggak sanggup konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu di kantor, di rumah, bahkan ketika aku harus bayar ongkos di bus kota. Uang yang seharusnya kuberikan kepada pengamen, malah kuberikan kepada kondektur.

Ya, aku terlalu banyak melamun.

April ini bukan bulan baik buat aku. Tapi segala sesuatu nggak harus selalu baik-baik saja bukan?. (Ya, aku memang sedang dan selalu menenangkan jiwaku sendiri). Merujuk pada obrolanku dengan Village satu minggu lalu lewat sms, menurutnya, seringkali pertumbuhan ditemani rasa sakit. Aku tumbuh? Benarkah? Aku tidak tahu. Tapi jika memang benar, aku bersyukur. Sms itu datang setelah kukirim sms sebelumnya: bahwa aku memutuskan untuk megakhiri komitmenku dengan pacarku. Aku juga bilang kalo aku tidak merasa baik-baik saja hari itu.

Kadang aku merasa masih menjadi perempuan yang normatif. Sebagai perempuan, diam-diam aku sering mengharapkan kehadiran pacar di dekatku saat aku sedih. Tentu saja itu normal, tapi... kalau pacar jauh bagaimana? Aku sudah mengerti kondisi ini sejak lama. Aku juga mengerti kalau pacarku memiliki persoalan untuk memulai obrolan, ia seringkali merasa tidak terlalu penting menyapaku pagi2, mengirimkan sms penyemangat. Intinya, dia punya masalah dengan komunikasi. Menurutku dia tidak mengerti aku. Dan lama-lama aku tidak mengerti dia. Siapa dia? Apa pentingnya dia untukku? Kenapa harus dia? Ada atau tidak ada dia, sama saja. Aku tetap sendirian menyelesaikan persoalan-persoalanku, tak ada yang mendengarkan, tak punya tempat berbagi. Aku sendirian. Meski sering sekali sakit kurasa tapi hingga kini, aku bertahan. Artinya, aku kuat. Sendirian tak berarti tak sempurna.

Malam itu, lupa aku tanggal berapa, aku meneleponnya, mengajaknya bicara baik-baik, aku breakdown persoalan yang ada, aku review perasaanku, perasaannya, perasaan kami. Semua yang terjadi. Tak ada kebohongan, pura-pura kuat dan sok wise. Aku bilang kalau aku nggak bisa bertahan dalam keadaan ini. Aku tak kecewa dia bilang egois. Aku mengerti kekagetannya. Tapi aku benar-benar tak bisa bertahan. Aku menangis. Aku nggak pura-pura kuat dan bertindak bijak. Aku hanya meletupkan keluhan-keluhanku padanya. Keluhan yang selama ini nggak pernah berani kuungkap demi kompromi dengan kondisi psikologis dia yang memang sedang tidak baik sejak lulus kuliah. Aku (mungkin) mengeluh di saat yang tidak tepat. Tapi aku tak bisa lagi menahannya.

Bangun tidur mataku bengkak. Aku turun ke bawah, menghampiri lemari es, membuka pintu bagian atas, mengambil kotak2 cetakan es, menuju wastafel, membukanya dan mencucinya. Aku naik ke kamarku, mengambil waslap, kumasukkan tiga kotak es yang kubawa dari bawah, kukompres mataku. Ketika dinginnya es terasa di mataku, aku ingat percakapan dengan mantan pacar (hahaha, mantan!), diantara dinginnya es, ada yang hangat, air mataku.
Ibuku masuk ke kamar, menanyakan apakah aku baik-baik saja.
Kujawab, "Aku baik2 aja Ma".

"Kok pake kompres mata segala? Kamu abis nangis ya?"

"Iya, perih, di depan komputer terus, baru tidur jam 4!"

"**&^%$#@!(??>" ibuku mulai ngoceh.. Gosh!

10 menit setelahnya, aku beranjak ke kamar mandi. Duh, badan ini berat sekali rasanya.. (Huu, emang aku gendut..gimana nggak berat coba?). Aku buka keran dan segera berwudhu. Sayup-sayup masih kudengar ibuku ngoceh sambil menyetrika kerudungnya. "Hari gini, baru subuhan, ini mah dhuha! Heran deh Mama sama kamu..bla bla bala bala..", ocehnya. Aku tetap sholat. Meski dengan sayup-sayup celoteh itu. Namanya juga ibu-ibu, kataku dalam hati. Lagi-lagi menenangkan diri. Aku berdoa, semoga kami bisa menghargai keputusan yang kami sepakati semalam. Aku juga berdoa untuk Bapakku. Eh, ada airmata juga setelahnya.

Di kantor

Aku merasa tidak produktif. Aku sedang dooooooooown sekali. Aku merasa bodoh dan nggak bisa bikin apa-apa. Bahkan untuk menulis pendek saja, aku seringkali gagal. Aku nggak lagi bisa memaklumi kalo aku adalah junior copywriter. Aku pemalas. Aku nggak berbuat apa-apa. MAna ada konsep besar datang dari kepalaku. Itulah sebabnya tidak sedikit sindirian datang untukku. Aku tentu saja malu. Berkali-kali brainstorm, aku banyak diam. Berkali-kali creative order hanya kubaca satu kali.
Komputerku pun sedang bermasalah, kalau mau mencetak dokumen, harus numpang ke komputer teman.
Hal ini sangat mendukung kemalasanku.
Tiap kali aku merasa tidak berguna, tiap kali itu juga aku ingat semangat bos, untuk jangan pernah menyerah mempelajari 'dunia' ini. Tapi kini, hal itu seringkali tak berfungsi dengan baik seperti sebelumnya.
Aku sering melamunkan kerja di Jogja. Bekerja di kampung, melakukan riset dan workshop untuk orang-orang kampung, reportase untuk newsletter KUNCI, atau sekedar membantu hal yang printil2 di YSC atau organisasi lain. Pergi kemana-mana dnegan sepeda bersama Rong-rong, nongkrong di angkringan, bantuin library project milik Ria Kriwil untuk anak-anak, bekerjasama dengan orang-orang yang sederhanal dan tentunya tidak manipulatif.
Tapi tiap kali aku membicarakan ini dengan keluargaku, semua menggelengkan kepala. Memang sih, ibuku sendirian di rumah. Aku pun merasa sangat egois jika terus menurus menekan keluargaku untuk merestui keinginanku.

Aku belom punya solusi untuk ini.

Dian & Yang Lain

Hampir semua temanku sibuk, saat aku ingin sedikit saja berbagi soal ini. setidaknya kalopun tidak berbagi aku, aku bisa dengan tertawa bersama atau ngapain kek yang asik asik..
Tapi sudahlah..
Tuhan mungkin memang sedang mengencangkan kesabaranku. Deeu.. sok wise. Habis mau gimana lagi. Marah-marah pun hanya menghabiskan energi saja. Nggak ada gunanya. Nyape2in doang. Dian entah kemana, Indira sedang di Sukabumi, Gatha nun jauh di Denpasar, Mbak Cici di Jogja, Rong-rong pun sedang sibuk. Hff.. aku memang benar-benar harus menyelesaikannya sendirian.

Aku juga merasa kehilangan "temen berantem" ^^ hehe.. Dia tiba-tiba saja melupakan aku.. Seringkali sms ku tidak dibalasnya. Dia akan pameran lukisan di salah satu kantong budaya di Jakarta. Aku datang ke pameran itu. Aku melihat dia. Tapi ia tak berani menatapku. Aku masih sedih karena biasanya soal pameran, aku selalu tau lebih awal. Kali ini berbeda. Aku melihat banyak orang yang memuji karyanya. Aku melihatnya di buku pesan dan kesan yang biasa ditulis pengunjung ketika mereka pulang. Aku melihat sebuah lukisannya yang sangat 'bernyawa', meski ludah harus berkali-kali kutelan karena pedih melihatnya.. pedih untuk mengakui bahwa aku sudah tidak dibutuhkan lagi. tapi aku percaya, bahwa hanya akulah satu-satunya orang yang diam-diam begitu bahagia (dibalik kepedihan) melihat ia berdiri tegak dengan kepala yang tidak lagi menunduk ketika bicara dengan orang lain.
Soal pedih itu, aku memahami perasaanku. Karenanya aku segera pulang.

Aku sepertinya memang sedang dijauhi, di-nggakmengerti sama orang-orang yang kusayang.

Dan diantara segalanya, beruntung aku masih memiliki kamu, Village.


-listening Make it With You by Bread


Read more...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP