Mum, Me and TV
..lalu doa doa lalui sekujur tubuhku..dengan apa ku membalas?
Saat-saat kayak gini jarang sekali terjadi di rumah pisangan, my home. Mama dan gue berada di living room dan nonton TV bareng. Setelah lelah mengganti channel TV, kami putuskan untuk nonton I-Sinema di ANTV. Kali ini judulnya Super Model. Yang main hampir semua model Fahrani, Artika Sari Devi, Catherine Wilson, Fedi Nuril, dll. Whew, ANTV banyak program baru. Hal ini bukan gue tau karena sering nonton TV, tapi karena waktu meeting dengan salah satu klien gue, orang-orang ANTV juga dateng untuk present program mereka. Ini berkaitan dengan usulan kantor gue untuk bikin program TV untuk si klien.. Jadilah gue tau beberapa program ANTV yang kini kerjasama sama Star TV.
Oke, back to mum and me, sambil makan pisang Pontianak yang sengaja gue bawa dari Tanjung Duren, kita asyik banget nonton itu film. Beberapa kali gue diskusi sama mama soal kehidupan model, berkali-kali juga istigfar keluar dari mulut Mama kalo ngeliat sebegitu sengitnya kehidupan di Jakarta yang kemudian lebih spesifik lagi ke kehidupan si model. Well, secara mama gue kerja di sebuah rumah sakit yang sangat islami lingkungannya, dia terkaget-kaget liat gaya hidup, many kind of personalities dan intrik (sok tau banget gue!) yang sering banget terjadi di dunia kerja. Dan berkali kali juga dia berkata semoga anaknya nggak ada yang kayak begitu..
Duh mama..
Bukan itu esensinya. Tapi bahwa gue akhirnya bisa di rumah sebelum jam 8 dan bercengkarama dengannya, itu yang paling berarti buat gue. Sesekali gue cerita soal latihan gue di gym, kantor dan sedikit urusan-urusan yang cukup mengganggu gue. Sebetulnya mama orang yang enak buat diajak cerita, nasehat-nasehatnya meski SELALU sama, tetep gimanaaaa gitu kalo gue dengerin.. Yang sangat gue hargai adalah usahanya untuk menempatkan diri jadi anak seperti gue, jadi temen buat gue. Dan gue selalu merasa bersalah karena sering banget gue pulang, dia udah tidur, kadang di sofa sambil pegang remote TV. Nggak cuma itu, berkaitan dengan apa yang dia lakukan buat gue, jarang banget gue mau dengerin nasehatnya atau sekedar menempatkan pikiran gue untuk kompromi dengan pikiran dia sebagai orang tua yang melahirkan gue.. (Forgive me for this shit Mum..)
Lalu kemudian, biasanya gue langsung naik dan masuki kamar yang wangi dan rapi. Nggak seperti waktu gue tinggal ketika akan pergi ke kantor.. Nggak ada kertas-kertas berserakan, cat-cat minyak, kanvas, dan buku-buku yang berantakan, baju-baju di atas tempat tidur…
Duh Mama..
Hal-hal indah kayak gitu sering banget jadi semangat gue untuk mencari pekerjaan yang membuat dia tenang atau lebih tepatnya bahagia. Kadang curhat-curhatnya tentang gue, seringkali dilengkapi dengan tetes airmatanya… (Siapa yang sanggup melihat ini?). Sebetulnya gue nggak sering pulang terlalu malem sih, tapi secara perjalanan dari rumah ke kantor jauh dan macet, membuat gue jadi sering sampe rumah, paling cepet, jam 9. Kalau mesti lembur paling cepet sampe rumah jam 11 dan paling lambat itu ya.. pas adzan subuh.. Juga, gue jarang inform kalo lembur.
“Kalo kamu nggak tidur di sana, Mama juga nggak tidur di rumah Nis. Mama mikirin apa yang sedang kamu kerjakan, mama mikirin, kok ada sih kerjaan kayak gini buat perempuan, dan bisa-bisanya kamu menikmati pekerjaan ini, itu lho Nis yang bikin Mama nggak abis pikir!”
Kata siapa aku menikmati Ma?
Kata siapa aku nggak mikirin Mama?
Kata siapa aku nggak pengen makan malem sama Mama?
Kata siapa aku nggak sebut Mama dalam doa?
Kata siapa aku nggak sesak menjalani ini?
Kata siapa aku nggak pengen dengerin cerita-cerita Mama seperti Papa yang selalu jadi temen curhat Mama selama hampir 35 tahun?
Kata siapa aku nggak mau melewati waktu setelah jemaahan isya dengan nonton TV bersama dirimu, Ibuku..?
Kata gue dalam hati dengan isak yang tertahan—agar khawatirmu tak bertambah..
***
“Nis, mama tidur duluan. Nanti tolong matiin lampu-lampu, cek pager dan pintu depan. Itu pisangnya diabisin, jangan mubazir. Oh ya, Jangan begadang!” katanya sambil berjalan menuju tempat dimana dulu ia sering bercinta dengan ayahku.
Listening Ibu by Iwan Fals..
Wednesday, May 03, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment