jangan letih!
cinta memang gak ada habis2nya buat dibahas. terutama buat berandaku ini. kebanyakan isinya soal perasaan atau lebih spesifik lagi ke urusan cinta. menjalani satu relasi hampir lima tahun ternyata bukan perkara mudah. dan semuanya begitu rumit untuk dijelaskan satu persatu. dan retaklah hati ini ketika kami tak lagi punya energi untuk menjadikannya lebih baik dari kemarin.
memintanya untuk menetap disampingku hanyalah sebuah langkah yang akan membuat segalanya jadi tidak terlalu mengenakan. bagiku juga baginya. aku tahu, salah satu jalan yang menjadi pilihan adalah melepaskannya. tapi membayangkan diri ini harus berjalan sendirian tanpa dia aja, aku gak sanggup. berkali-kali aku meyakinkan diri kalau ini cuma soal waktu. bahwa suatu saat akan kutemukan orang yang lebih baik, lebih bisa kusandarkan.. tapi hatiku gak cukup kuat untuk menyakinkan bahwa segalanya mungkin terjadi.
aku mencintainya.
dan langkahku selalu terhenti tiap kali aku mengatakannya dalam hati. begitu beratnya perasaan itu sampai aku gak sanggup meletakkannya ke hati yang lain.
listening 'for all we know' by carpenter.
Tuesday, November 28, 2006
Thursday, July 06, 2006
gini tho rasanya..
Ashar ini gue berdoa agak lama, ada beberapa tambahan doa yang nggak biasanya gue lafalkan dalam ritual rutin ini. Salah satunya adalah gue begitu mengkhawatirkan salah seorang sahabat. Sebetulnya secara fisik dia baik2 aja. Entah apa yang bikin gue begitu mengkhawatirkan dia, padahal ia terlalu dewasa untuk dikhawatirkan. Ketuaan malah. Gue yang jarang nangis saat berdoa, kali ini gue merasa pipi gue basah sepanjang doa, abis2an gue merengek agar Tuhan nggak berhenti menjaga keselamatan sahabat gue dan orang-orang yang dekat dan sayang sama dia.
Fiuh.. nggak nyangka segini kuatirnya gue ama tu anak.
Please take care dude..
*listening Doa by Jingga
Tuesday, July 04, 2006
h e a r t a c h e!
Maybe that’s your life are.. Makin people feel bad..
sakit? wajar!
Pernah keilangan sahabat beberapa tahun lalu, bener2 bikin sedih. Quite unwell. Merasa pernah berarti, merasa telah mempersembahkan tempat untuknya di sudut hati kamu, kemudian dengan begitu saja, dia membuangmu.. tanpa kamu mengerti apa salahmu..
Nggak ada mantan temen. Aku pun berusaha meyakinkan itu berkali-kali terhadap diriku. Tapi kali ini sakit banget. Semua teguranmu kalo gak dicuekin ya kamu akan dapetin bentakan, kesinisan, dan ia merasa bahwa perhatian kamu sangat mengganggunya. Karenanya, lebih baik kamu diam. Tapi ternyata diam membuat lukamu makin menganga. Hatimu kering seperti wastafel yang lama tak terpakai. Derit kerannya yang keras tak berbeda dengan sulitnya mulutmu untuk bicara. Seolah kau tak lagi punya pita suara untuk sekedar memanggil namanya, seperti yang sering kamu lakukan.
Perasaan ini sakit adanya. Kamu pun berusaha terus memperbaiki keadaan ini hanya karena kamu tak ingin lagi kehilangan sahabatmu seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. Akhirnya, kamu lepaskan seluruh hal yang berbau harga diri dan gengsi. Kamu menegurnya lagi, meski seperti dugaanmu.. ia akan bersikap seperti kemarin-kemarin. Ia tetap mengacuhkanmu, membuatmu merasa buruk dan salah, memaksamu untuk melupakan bahwa kalian punya sesuatu yang harus diperjuangkan: persahabatan.
Sekali, sepuluh kali, seratus kali.. Ayolah, akui saja. Kamu jelas menderita. Jangan tahan lagi, biar saja sungai itu mengalir deras hingga ujung dagumu. Dengar derunya, nikmati setiap tetesnya.. Ada energi disana, aku percaya. Meski tak akan pernah habis jiwamu bertanya, kenapa ia berlaku seperti ini padamu? Kenapa ia mencampakkanmu setelah kamu tidak lagi berguna untuknya?
Dan, apakah kamu akan tetap mendukungnya seperti biasa, seperti kemarin-kemarin..? Seperti janjimu padanya?
enjoy being hurt!
listening sinned o'connor
Monday, July 03, 2006
aha! monink sickness
pagi ini gue merasa males banget bangun pagi. seperti biasa, gue ngebayangin harus ketemu tukang ojek macam bang epeng (preman yang cukup disegani di daerah gue), berdesakan bareng orang2 menunggu 213 di kampas bogor, rebutan naik bis ppd itu, melihat messy-nya terminal kampung melayu, melewati matraman, diponegoro, imam bonjol, menteng, tosari (di tempat inilah di mulai pameran billboard dan beragam iklan media luar ruang lain), dukuh atas... sampai benhil (tempat dimana biasanya copet2 yang naik di megaria pada turun), naik ke semanggi, senanyan, kemudian slipi (dimana biasanya orang2 yang sleepy di bis pada bangun, karena di tempat ini banyak banget yang turun), abis itu pusat macet slipi jaya, baru deh di taman anggrek kemudian.. g r o g ol.. di tempat ini gue mesti turun dari bis gede itu. setelahnya gue harus berjalan sekitar 100 meter melewati jalanan yang sedikitnya ada 10-15 pedagang kaki lima yang jualan menu sarapan. sampai akhirnya gue bisa duduk di angkot B14 (yang panasnya minta ampun dan super duper ugal2an kalo nyetir), menuju kantor di kebon jeruk.
can you imagine?
but life goes on gitu.. just face it. there's no other way.
Wednesday, June 21, 2006
KESEPIAN KITA
Ingatkah kawan kita pernah saling memimpikan
berlari-lari tuk wujudkan kenyataan
lewati segala keterasingan
lalui jalan sempit yang tak pernah bertuan
Ingatkah kawan kita pernah berpeluh cacian
digerayangi dan digeliati kesepian
walaupun sejenak nafas dari beban
tuk lewati ruang gelap yang teramat dalam
Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan
memaksa kita memendam kepedihan
Tapi kita juga pernah duduk bermahkota
pucuk-pucuk mimpi yang berubah jadi nyata
dicumbui harumnya putik-putik bunga
putik impian yang telah membawa kita lupa
Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan
memaksa kita memendam kepedihan
Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan
memaksa kita merubah jadi tawa
Friday, June 09, 2006
PAPA MY SAVIOUR
papakyuuu,
pa kabar pa? lama nisa gak jenguk papa deh.. wah pa, nisa pulang malem mulu.. malah pernah pulang pagi. jam 1/2 7 pa. mama sering banget geleng2 kepala pa. nisa minta maaf untuk ini ya pa.. nisa sering biarin mama sendirian di rumah. bahkan hari libur sekalipun..
inget gaya "mana sempaaaaat!"-nya papa deh..
bangun subuh tadi nisa agak kaget dan males (ini mah biasa ya pa!). di mimpi itu, nisa barusan bangun tidur, nisa tanya sama kak inda, apakah papa udah dipindahin ke penjara cipinang. kata dia, udah. nisa lega banget pa, karena pasti bisa sering jenguk papa. dan tau gak sih pa, nisa bangga banget karena papa adalah tahanan politik! Like pram, daddy!
ceileee.. mimpi neng? bangun.. bangun..
oia pa, pak pram itu udah meninggal. rumah dukanya deket rumah kita. di multi karya. deket toko cat abadi jaya langganan papa.. utan kayu saat itu penuh pa, kayak pepes orang. dia istirahat di karet kuningan. sayang ya pa, nggak sama dengan kostan papa.
papa,
akhir2 ini, nisa emang sering baca bukunya pram. terakhir nisa baca tulisan mas faiz ashoul, anak AKY, soal kisah cinta pram dengan pacar2nya dan terakhir sama ibu maemunah (istri yang memberinya 5 orang anak dan 17 cucu). sebelumnya nisa baca, "aku terbakar amarah sendirian", ini buku hasil wawancara pram dengan dua peneliti dari luar negeri pa. tapi nisa belum selesai baca.. mama kadang marah nisa sering baca bukunya pram pa. tapi terakhir papa percaya ato enggak, mama nisa gep-in lagi baca 'nyanyi sunyi seorang bisu'. abis itu nisa diskusi kecil sama mama. dan mama masih memercayainya kalo pram adalah seorang komunis, anggota PKI. kadang nisa pengen banget punya papa seperti pram. nisa sirik banget baca suratnya untuk salah satu anaknya yang bernama yudi. dia bertanya tentang sejauh mana anaknya sudah belajar soal ilmu bumi. dia suruh anaknya beli peta besar. dan ngasih soal2 seputar perjalanan dia keliling dunia.. papa, sungguh pram adalah papa idola nisa..
tapi pa,
nisa nggak berniat beda2in papa dengan pram. papa tetep papa yang oke buat nisa. papa yang selalu cium nisa sebelum tidur.. dan nisa bersyukur banget atas itu semua. nisa seneng nisa bisa bales milyaran ciuman papa, saat papa sakit.. hayoo, bisa itung gak? tapi pasti gak sebandinglah.. hampir 22 tahun tumpahi nisa dengan ciuman papa..
pa,
insyaalloh dalam waktu deket nisa maen ke kostan papa. papa mau dibawain apa?
bales surat nisa ya pa..
peluk sayang dan kecup cinta,
nisa.
Wednesday, May 17, 2006
Tuesday, May 16, 2006
Gak Ada Maksud
"Hon, do u see cutter?"
Nggak ada jawaban.
Aku berjalan menuju dining room. Mendapati perempuan yang paling kucintai sedang membuka sebuah kardus berisi berbagai cd dan dvd koleksi kami. Ia, hartaku, duduk bersila. Rambut coklatnya digulung ke atas, menyisakan beberapa helai yang jatuh-jatuh menghiasi tengkuknya. Sinar matahari dari barat yang masuk melalui celah jendela kayu, menghasilkan refleksi indah pada tulang tengkuk yang sempurna. Pantulan sinar-sinar dari kalungnya sedikit menyilaukan mataku. Seketika aku diam menatapnya dari belakang. Ia bersenandung..
"..You're just like an angel
Your skin makes me cry.."
Kurasakan sesuatu bernama hasrat seliweran memenuhi dada dan kemudian turun membuat dengkul lemas. Dengan hati penuh aku mendekat. Langkahku membuatnya menoleh..
Aku kaget, tapi sedikit. Senandungnya menjadi pelan. Sambil tersenyum ia mengangkat alisnya. Dahinya yang putih dipenuhi gumpalan keringat.
Godamnit, aku ingin mengelap dahi itu.
"Liat cutter nggak?"
"Di atas kulkas..", tetap dengan senyum indah dan tetesan peluh penuh makna. Setidaknya untukku.
I don't care if it hurts
I want to have control
I want a perfect body
I want a perfect soul
I want you to notice when I'm not around
You're so fucking special
I wish I was special
***
remember sumthin', huh? yeah, you should.
gloomytuesday
me@arjunautara
Wednesday, May 03, 2006
ATAS NAMA PAGI
(Ikut2an SGA.. =P)
Kalo boleh cerita hal bikin gue bahagia hari ini adalah percakapan pagi-pagi sama Mama. Jam 5.30 beliau bangunin gue untuk nyubuh. Seperti biasa, setelahnya, gue duduk di meja makan, minum susu sambil makan pisang ambon dan tiba-tiba beliau bilang gini,
“Nih, kamu pake,” sambil nyodorin liontin berrtuliskan Ayat Kursi. “..Biar selamet terus kamu! Kamu pake aja ama kalung-kalungmu dari tali itu.. kamu kan gak suka pake emas.”
Sambil meraih itu liontin, gue cengengesan sekaligus feel wonder gitu. Hari gini pake jimat keselamatan...
“Kenapa kamu ketawa, ngeremehin banget sih!”
“Ye.. Mama tuh suuzon!”
“Abis kamu cengengesan gitu! Annisa, gimana perkembangan film kamu?”
Whoa!
“Kok mama tumben nanyain?”
“Gapapa, Tanya aja, udah dapet duit? Dan jadi kamu ketemu sama korban penculikan itu.. syapa namanya?”
“Oh, Mas Jati*. Nisa ketemuan hari Jumat rencananya. Di Kedai Tempo, sama istrinya sekalian.”
“Wah, kamu ketemu dong apa temen-temenmu di kantor lama? Kamu hati hati lho Nis, isunya sensitif banget, ntar kamu diculik juga lagi, Mama nggak mau deh denger-denger masalah. Pokoknya kamu harus hati-hati, denger Mama nggak?”
“Iya Mama, lagian isu 65 itu udah dapet tempat di banyak pihak, nggak seperti dulu.. Mama tenang aja. Yang penting doain biar banyak yang mau support film ini.”
“Kamu ya, ngajarin doa sama orangtua.. Lebih ngerti Mama daripada kamu tau! Kak Inda itu kenal nggak sama Si Jati itu? Emang apa kerjanya dia sih Nis?”
“Duh, Nisa belom sempet nanya Ma, harusnya sih kenal. Mas Jati itu direktur Voice of Human Right Ma, kayak radio yang bahasnya soal-soal HAM gitu.”
“Oo.. Ya udah, pokoknya ati-ati kamu ya! Gak olahraga kamu?”
“Enggak, Nisa mau ke bank, urus administrasi. Eh, Ma, Medi ulang tahun hari ini, menurut Mama, Nisa ucapin nggak?”
“Ucapin aja, kan sekalian jaga silaturahmi, tapi kalo itu sulit buat kamu, ya nggak usah, lagian dia kan tipenya nggak menganggap momen kayak gitu penting.. ya kan?”
“Iya sih.. Jadi?”
“Ya terserah kamu! Udah ah Mama pergi dulu ya, lampu jangan lupa mati-matiin. Kipas angin di kamarmu matiin. Beresin dulu kamarmu sebelum ditinggal. Jangan numpuk cucian di belakang pintu. Ya? Yuk Mama duluan.. Eh! Jangan lupa bayar listrik!”
“Iya.. Daaa Mama!”
Abis cium tangan dan cipika cipiki, Mama pun pergi.
Entahlah, seneng aja sama obrolan itu, meskipun beberapa bagian akhir, selalu sama dari hari ke hari. Tapi semuanya begitu membawa energi buat gue..
..Tapi bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis..(Soe Hok Gie)
Dan, selamat datang pagi!
* Mas Jati adalah korban penculikan mahasiswa tahun 98
Mum, Me and TV
..lalu doa doa lalui sekujur tubuhku..dengan apa ku membalas?
Saat-saat kayak gini jarang sekali terjadi di rumah pisangan, my home. Mama dan gue berada di living room dan nonton TV bareng. Setelah lelah mengganti channel TV, kami putuskan untuk nonton I-Sinema di ANTV. Kali ini judulnya Super Model. Yang main hampir semua model Fahrani, Artika Sari Devi, Catherine Wilson, Fedi Nuril, dll. Whew, ANTV banyak program baru. Hal ini bukan gue tau karena sering nonton TV, tapi karena waktu meeting dengan salah satu klien gue, orang-orang ANTV juga dateng untuk present program mereka. Ini berkaitan dengan usulan kantor gue untuk bikin program TV untuk si klien.. Jadilah gue tau beberapa program ANTV yang kini kerjasama sama Star TV.
Oke, back to mum and me, sambil makan pisang Pontianak yang sengaja gue bawa dari Tanjung Duren, kita asyik banget nonton itu film. Beberapa kali gue diskusi sama mama soal kehidupan model, berkali-kali juga istigfar keluar dari mulut Mama kalo ngeliat sebegitu sengitnya kehidupan di Jakarta yang kemudian lebih spesifik lagi ke kehidupan si model. Well, secara mama gue kerja di sebuah rumah sakit yang sangat islami lingkungannya, dia terkaget-kaget liat gaya hidup, many kind of personalities dan intrik (sok tau banget gue!) yang sering banget terjadi di dunia kerja. Dan berkali kali juga dia berkata semoga anaknya nggak ada yang kayak begitu..
Duh mama..
Bukan itu esensinya. Tapi bahwa gue akhirnya bisa di rumah sebelum jam 8 dan bercengkarama dengannya, itu yang paling berarti buat gue. Sesekali gue cerita soal latihan gue di gym, kantor dan sedikit urusan-urusan yang cukup mengganggu gue. Sebetulnya mama orang yang enak buat diajak cerita, nasehat-nasehatnya meski SELALU sama, tetep gimanaaaa gitu kalo gue dengerin.. Yang sangat gue hargai adalah usahanya untuk menempatkan diri jadi anak seperti gue, jadi temen buat gue. Dan gue selalu merasa bersalah karena sering banget gue pulang, dia udah tidur, kadang di sofa sambil pegang remote TV. Nggak cuma itu, berkaitan dengan apa yang dia lakukan buat gue, jarang banget gue mau dengerin nasehatnya atau sekedar menempatkan pikiran gue untuk kompromi dengan pikiran dia sebagai orang tua yang melahirkan gue.. (Forgive me for this shit Mum..)
Lalu kemudian, biasanya gue langsung naik dan masuki kamar yang wangi dan rapi. Nggak seperti waktu gue tinggal ketika akan pergi ke kantor.. Nggak ada kertas-kertas berserakan, cat-cat minyak, kanvas, dan buku-buku yang berantakan, baju-baju di atas tempat tidur…
Duh Mama..
Hal-hal indah kayak gitu sering banget jadi semangat gue untuk mencari pekerjaan yang membuat dia tenang atau lebih tepatnya bahagia. Kadang curhat-curhatnya tentang gue, seringkali dilengkapi dengan tetes airmatanya… (Siapa yang sanggup melihat ini?). Sebetulnya gue nggak sering pulang terlalu malem sih, tapi secara perjalanan dari rumah ke kantor jauh dan macet, membuat gue jadi sering sampe rumah, paling cepet, jam 9. Kalau mesti lembur paling cepet sampe rumah jam 11 dan paling lambat itu ya.. pas adzan subuh.. Juga, gue jarang inform kalo lembur.
“Kalo kamu nggak tidur di sana, Mama juga nggak tidur di rumah Nis. Mama mikirin apa yang sedang kamu kerjakan, mama mikirin, kok ada sih kerjaan kayak gini buat perempuan, dan bisa-bisanya kamu menikmati pekerjaan ini, itu lho Nis yang bikin Mama nggak abis pikir!”
Kata siapa aku menikmati Ma?
Kata siapa aku nggak mikirin Mama?
Kata siapa aku nggak pengen makan malem sama Mama?
Kata siapa aku nggak sebut Mama dalam doa?
Kata siapa aku nggak sesak menjalani ini?
Kata siapa aku nggak pengen dengerin cerita-cerita Mama seperti Papa yang selalu jadi temen curhat Mama selama hampir 35 tahun?
Kata siapa aku nggak mau melewati waktu setelah jemaahan isya dengan nonton TV bersama dirimu, Ibuku..?
Kata gue dalam hati dengan isak yang tertahan—agar khawatirmu tak bertambah..
***
“Nis, mama tidur duluan. Nanti tolong matiin lampu-lampu, cek pager dan pintu depan. Itu pisangnya diabisin, jangan mubazir. Oh ya, Jangan begadang!” katanya sambil berjalan menuju tempat dimana dulu ia sering bercinta dengan ayahku.
Listening Ibu by Iwan Fals..
Tuesday, May 02, 2006
SO GYM-ME BABY ONE MORE TIME!
Whoa!
Many things happened. Banyak sekali yang ingin kutulis tapi entah kenapa aku nggak punya cukup banyak energi untuk mengungkapkan rasa menjadi kata. Aku aja nggak tau mau mulai dari mana saking banyaknya.
Satu-satunya yang menolongku atas rasa gelisah dan bete adalah pergi ke gym. Untuk ini, aku merasa harus berterimakasih sama Arden, my gym-mate. Arden itu sosok yang aku kenal sejak SMP. Dari dulu dia selalu berprestasi dan punya sesuatu yang baru buat dijadiin bahan obrolan sampe celaan. Aku juga merasa dia itu gadget freak. Paling tidak lebih majulah di banding temen-temen waktu SMP dulu. Seingetku, dia yang pertama kali pake rotring untuk nulis, jaman SMP gitu loh, dia bahkan udah ahli mengutak atik ornamen2 di dalemnya yang luar biasa ribet. Dia juga pinter dan sering jadi sumber contekan temen-temen. Yang paling bikin deket adalah Arden and Joevan (my ex) are christian. Heehehe..
And u know, he’s kind of chub-nerdy boy at that moment.
Ya, that’s Arden..
People change! Nggak satu SMA dengan dia bikin aku lost contact dan gak tau kabar dia
sama sekali. Waktu itu sempet diceritain kalo dia bikin film indie sama temen-temen kuliahnya kalo nggak salah and he was very exited. Setelah itu dia kerja di majalah a+, terus kemudian ke Bali.. dan akhirnya kembali lagi ke Jakarta. Dan yang paling bikin seger adalah, kita ketemu di lobby gym saat dia lagi nyari instruktur dan aku baru dateng untuk latihan. Kita treadmil sebelahan dan nggak berenti-berentinya ketawa saking wondernya. Arden change! With his shaped body, he looks very vigorous now. Arden hidup sehat dan itu sangat hebat. Aku selalu salut dengan orang yang bisa mengubah pola hidupnya 360 derajat. Menjadi vegan misalnya, hmm.. kapan ya aku bisa sekeras itu memperlakukan diriku? Tapi Arden bisa meski dia bukan vegan. Dia bangun tidur jam ½ 5, ke gym, dan langsung ke kantor setelahnya dan dia tidur jam 8 malam. Ia juga kuperhatikan lebih jeli setiap kali ia membeli makanan dalam kemasan. Begitu setiap harinya. Untuk karakter Arden nggak berubah, dia memberiku tips2 yang sangat berguna untuk body shape dan sesekali jadi instruktur dadakan untuk ngajarin aku alat-alat yang agak weirdo bentuknya.
Terinspirasi dari Arden, sebetulnya aku ingin bersumpah. Aku ingin sumpah kalo aku akan disiplin dalam hal mengonsumsi makanan. Tapi untuk apa diucap?. Aku sering begitu dan sering juga melanggar. Hehehehehe. Yang kupikirkan kali ini ketika aku memutuskan untuk pergi ke gym, adalah aku ingin sehat. Dan aku tau betul menuju sehat bukan tanpa pengorbanan. Lagian aku percaya ini soal kebiasaan aja. Buktinya setelah lebih dari seminggu aku latihan di gym, badanku nagih terus untuk latihan dan kuakui betul efeknya sangat hebat (bukan berat badan ya!) bahkan bisa buat ngilagin stres kalo kita ikut kelas aerobik, pilates, yoga atau salsa ca ca ca.. Aku memang belum pernah ikut kelas itu sih. Yang pernah kuikuti itu stepper class dan aku adalah satu-satunya murid yang paling sering ketinggalan gerakan.. hehehehe..
Dan emang sih, pola hidupku agak berubah hampir sebulan ini. aku nggak suka lagi tidur pagi. Aku banyak minum air putih dan yang paling mengejutkan buat diriku sendir adalah, aku berhenti ngemil dan menimbun makanan di kamar! Such a damn great work!
Tapiiii…
Seperti kata Arden, pada waktu-waktu tertentu kita juga mesti manjain diri sama makanan enak dan yang pasti tetap jeli sama kalorinya, biar setelahnya kita tau sebanyak apa exercise yang harus kita terapkan untuk tubuh kita.. harus dibalas dengan treadmill berapa laps?!
Wah wah wah.. So Gym-Me a Gym!
Friday, April 14, 2006
gimana kabar cinta bertepuk dinding?
village: mmm
village: mungkin suatu kali hubungan kalian berubah
village: jadi santai aja
dunianisa: aku memutuskan untuk melepaskan semua perasaan yang mengganggu itu lagedunianisa: sejak kemarin malam
village: ya udah
village: itu bagus
village: omong-omong, gimana itu caranya
dunianisa: gak tau deh.
dunianisa: kemaren sebelum tidur, aku niat bgt
village: melalui doa ya?
dunianisa: ya aku sholat
dunianisa: isya sekalian subuh
dunianisa: gak tau deh, tersugesti aja
Hampir satu minggu ini, aku selalu merasa terganggu dengan beberapa masalah yang tidak kunjung selesai. Mereka begitu mengganggu hingga seringkali aku nggak sanggup konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu di kantor, di rumah, bahkan ketika aku harus bayar ongkos di bus
Ya, aku terlalu banyak melamun.
April ini bukan bulan baik buat aku. Tapi segala sesuatu nggak harus selalu baik-baik saja bukan?. (Ya, aku memang sedang dan selalu menenangkan jiwaku sendiri). Merujuk pada obrolanku
Kadang aku merasa masih menjadi perempuan yang normatif. Sebagai perempuan, diam-diam aku sering mengharapkan kehadiran pacar di dekatku saat aku sedih. Tentu saja itu normal, tapi... kalau pacar jauh bagaimana? Aku sudah mengerti kondisi ini sejak lama. Aku juga mengerti kalau pacarku memiliki persoalan untuk memulai obrolan, ia seringkali merasa tidak terlalu penting menyapaku pagi2, mengirimkan sms penyemangat. Intinya, dia punya masalah dengan komunikasi. Menurutku dia tidak mengerti aku. Dan lama-lama aku tidak mengerti dia. Siapa dia? Apa pentingnya dia untukku? Kenapa harus dia?
Malam itu, lupa aku tanggal berapa, aku meneleponnya, mengajaknya bicara baik-baik, aku breakdown persoalan yang ada, aku review perasaanku, perasaannya, perasaan kami. Semua yang terjadi. Tak ada kebohongan, pura-pura kuat dan sok wise. Aku bilang kalau aku nggak bisa bertahan dalam keadaan ini. Aku tak kecewa dia bilang egois. Aku mengerti kekagetannya. Tapi aku benar-benar tak bisa bertahan. Aku menangis. Aku nggak pura-pura kuat dan bertindak bijak. Aku hanya meletupkan keluhan-keluhanku padanya. Keluhan yang selama ini nggak pernah berani kuungkap demi kompromi dengan kondisi psikologis dia yang memang sedang tidak baik sejak lulus kuliah. Aku (mungkin) mengeluh di saat yang tidak tepat. Tapi aku tak bisa lagi menahannya.
Bangun tidur mataku bengkak. Aku turun ke bawah, menghampiri lemari es, membuka pintu bagian atas, mengambil kotak2 cetakan es, menuju wastafel, membukanya dan mencucinya. Aku naik ke kamarku, mengambil waslap, kumasukkan tiga kotak es yang kubawa dari bawah, kukompres mataku. Ketika dinginnya es terasa di mataku, aku ingat percakapan dengan mantan pacar (hahaha, mantan!), diantara dinginnya es, ada yang hangat, air mataku.
Ibuku masuk ke kamar, menanyakan apakah aku baik-baik saja.
Kujawab, "Aku baik2 aja Ma".
"Kok pake kompres mata segala? Kamu abis nangis ya?"
"Iya, perih, di depan komputer terus, baru tidur jam 4!"
"**&^%$#@!(??>" ibuku mulai ngoceh.. Gosh!
10 menit setelahnya, aku beranjak ke kamar mandi. Duh, badan ini berat sekali rasanya.. (Huu, emang aku gendut..gimana nggak berat coba?). Aku buka keran dan segera berwudhu. Sayup-sayup masih kudengar ibuku ngoceh sambil menyetrika kerudungnya. "Hari gini, baru subuhan, ini mah dhuha! Heran deh Mama sama kamu..bla bla bala bala..", ocehnya. Aku tetap sholat. Meski dengan sayup-sayup celoteh itu. Namanya juga ibu-ibu, kataku dalam hati. Lagi-lagi menenangkan diri. Aku berdoa, semoga kami bisa menghargai keputusan yang kami sepakati semalam. Aku juga berdoa untuk Bapakku. Eh, ada airmata juga setelahnya.
Di kantor
Aku merasa tidak produktif. Aku sedang dooooooooown sekali. Aku merasa bodoh dan nggak bisa bikin apa-apa. Bahkan untuk menulis pendek saja, aku seringkali gagal. Aku nggak lagi bisa memaklumi kalo aku adalah junior copywriter. Aku pemalas. Aku nggak berbuat apa-apa. MAna ada konsep besar datang dari kepalaku. Itulah sebabnya tidak sedikit sindirian datang untukku. Aku tentu saja malu. Berkali-kali brainstorm, aku banyak diam. Berkali-kali creative order hanya kubaca satu kali.
Komputerku pun sedang bermasalah, kalau mau mencetak dokumen, harus numpang ke komputer teman.
Hal ini sangat mendukung kemalasanku.
Tiap kali aku merasa tidak berguna, tiap kali itu juga aku ingat semangat bos, untuk jangan pernah menyerah mempelajari 'dunia' ini. Tapi kini, hal itu seringkali tak berfungsi dengan baik seperti sebelumnya.
Aku sering melamunkan kerja di Jogja. Bekerja di kampung, melakukan riset dan workshop untuk orang-orang kampung, reportase untuk newsletter KUNCI, atau sekedar membantu hal yang printil2 di YSC atau organisasi lain. Pergi kemana-mana dnegan sepeda bersama Rong-rong, nongkrong di angkringan, bantuin library project milik Ria Kriwil untuk anak-anak, bekerjasama dengan orang-orang yang sederhanal dan tentunya tidak manipulatif.
Tapi tiap kali aku membicarakan ini dengan keluargaku, semua menggelengkan kepala. Memang sih, ibuku sendirian di rumah. Aku pun merasa sangat egois jika terus menurus menekan keluargaku untuk merestui keinginanku.
Aku belom punya solusi untuk ini.
Dian & Yang Lain
Hampir semua temanku sibuk, saat aku ingin sedikit saja berbagi soal ini. setidaknya kalopun tidak berbagi aku, aku bisa dengan tertawa bersama atau ngapain kek yang asik asik..
Tapi sudahlah..
Tuhan mungkin memang sedang mengencangkan kesabaranku. Deeu.. sok wise. Habis mau gimana lagi. Marah-marah pun hanya menghabiskan energi saja. Nggak ada gunanya. Nyape2in doang. Dian entah kemana, Indira sedang di Sukabumi, Gatha nun jauh di Denpasar, Mbak Cici di Jogja, Rong-rong pun sedang sibuk. Hff.. aku memang benar-benar harus menyelesaikannya sendirian.
Soal pedih itu, aku memahami perasaanku. Karenanya aku segera pulang.
Aku sepertinya memang sedang dijauhi, di-nggakmengerti sama orang-orang yang kusayang.
Dan diantara segalanya, beruntung aku masih memiliki kamu, Village.
-listening Make it With You by Bread
Wednesday, March 22, 2006
RUMAH TARA
rumah tara agak ramai
biasanya hanya: tara dan sang mama
tara dan sang mama jarang bicara
rumah panjang itu jarang berseru
tara dan sang mama sama-sama bekerja
setiap hari mereka digeluti rutinitas yang brengsek
membuat keduanya jauh dan berbatas
tapi kini rumah tara agak ramai
ada teman dan pamannya
sang mama jadi sering memasak
ia seperti terhibur dengan kedatangan orang-orang yang tak biasa
orang-orang jauh bahkan asing
tara terhibur
kini ia punya teman tidur
biasanya hanya ia dan dua orang sahabat: belu dan cingcuit
bersama sebuah kain tebal nan usang
kini,
ia punya teman cerita
aih, bukan main senangnya
rumah tara agak ramai
suara televisi kini sering terdengar
biasanya hanya alunan lagu-lagu di komputer tara yang membahana
rumah tara agak ramai
kini langkah burung gereja hampir tak terdengar